Senin, 01 Juli 2013

Menjadi orang jawa yang sukses



Eits.. Saya mengambil judul tersebut bukan berarti wacana ini untuk orang Jawa saja lho. Karena bagi saya, orang jawa adalah orang yang 'mengerti'. Kalau dalam bahasa jawa, dibaca 'jowo' atau 'njawani'. Biasanya kesuksesan identik dengan etnis tertentu. Padahal tidak demikian sebenarnya. Kesuksesan maupun keberhasilan adalah hak siapa saja yang bermimpi dan mau memperjuangkan mimpinya. 

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjFWO8Zhl3dn4q87uxR_MOWHs6nGbKtsxzrUPQvmVbcTHsUMs35QD1ZbUuoOw1tpMvGOSaCpG991nqKFK5_JnpEJCOR14Z7qDZgl2PGpici6mCzGvfMR4kBNzDWcpRygk5rL7FwVUXlPqVd/s320/kata+bijak+2.jpg

Dengan menulis ini bukan berarti saya telah sukses dan kaya raya. Harapan saya, paling tidak saya bisa memotivasi diri saya sendiri dengan berusaha mempertanggung jawabkan apa yang telah ditulis disini :) dan berbagi ilmu bahwasannya bumi Indonesia telah menyediakan segala sesuatu bagi kehidupan ini. Mulai kita bernafas, berpijak, memperoleh penghidupan di tanah Indonesia. Jadi kita berupaya untuk memanfaatkannya dengan baik dan memuliakan tanah air ini. 
  1. Bangun pagi. Leluhur kita sering bilang ''ayo, tangi esuk ben rejekine ora dipathok pitik" (ayo, bangun pagi, supaya rejekinya tidak dimakan ayam. Akan lebih banyak kelebihan yang didapat dengan bangun pagi. Udara bersih yang terhirup menjadikan badan lebih fresh dan sehat. Pekerjaan kantor, rumah maupun pelajaran akan lebih prepare jika disiapkan lebih pagi. Berangkat sekolah atau kerja tidak tergesa-gesa. Hati menjadi lebih tenang.
  2. Disiplin waktu. Maksudnya kita berdisiplin terhadap waktu. 'Waktu adalah harta yang paling berharga tapi yang paling cepat musnah'. So harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. 'Time is Money'. Waktu adalah uang. Jadi manajemen waktu sangat penting sekali. Nggak boleh komplain terhadap orang sukses, karena toh waktu yang kita miliki adalah sama-sama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu. Tinggal penggunaannya saja yang musti lebih bijak. 
  3. Silaturahmi. Ada pepatah jawa bilang 'akeh tamu akeh rejeki'. Banyak tamu banyak rejeki. Kalau kita menjalin silaturahmi dengan banyak orang dengan cara yang baik, tentu akan semakin terbuka pintu kebaikan bagi kita. Beberapa proyek yang didapatkan oleh suami saya adalah berkat silaturahmi. Gusti Allah membuka jalan rejekinya salah satunya melalui silaturahmi :)
  4. Tidak terlena dengan keuntungan dan keberhasilan yang di dapat. Setiap perolehan saat ini adalah bekal untuk di masa yang akan datang. pilihan ada di tangan kita. Mau kita gunakan untuk konsumtif atau investasi juga bisa. Bagi orang yang berpikiran maju. Apapun bisa terjadi di masa depan. Sehingga investasi adalah jalan yang di pilih. Meskipun tidak menikmati seutuhnya keuntungan yang di dapat saat itu juga. Namun ada mimpi yang diperjuangkan untuk kehidupan yang baik di esok hari. Kalau orang Cina bilang ''uang digunakan untuk menghasilkan uang''. Saya punya wali murid yang mengawali usaha dengan berjualan ayam. Ambil dari peternak dan dijual ke pasar. Istrinya membuka salon kecil-kecilan. Seiring perjalanan waktu. Salonnya sekarang jadi besar dan terletak di pinggir jalan lagi.... Suaminya juga sudah punya beberapa unit team pemasok ayam ke pasar. Dan merambah lagi ke resto fried chicken dengan menggunakan brand sendiri (bukan franchise). Lha iya, pantes saja laris... selain enak, ayamnya juga besar2 karena di supply sendiri :). Sekarang malah buka cafe dan boarding house (penginapan/kost). Walah kok jadi cerita kesuksesan orang lain yaa... intinya adalah yang saya pelajari dari beliau adalah bahwa pemilik usaha ternyata memperoleh gaji bulanan. sedangkan keuntungan yang lain di tabung dan diinvestasikan untuk membuka usaha... lagi dan lagi. Sip dah, saya juga bercita agar anak-anak saya dikemudian hari sudah memili bisnis yang sudah berjalan dengan baik, lancar dan ngrejekeni. Nggak lagi berpikiran untuk mencari kerja lagi. Tapi sudah punya usaha sendiri. Hmmm... 
  5. Pantang menyerah. Secara teori, kita banyak tau bahwa 'kegagalan adalah sukses yang tertunda'. Atau 'keberhasilan sudah selangkah di depan, saat kita memutuskan untuk berhenti berusaha'. Namun bukan hanya sekedar pantang menyerah dan menjalankannya tanpa perhitungan. Kegagalan yang ada dikalkulasi, di analisa agar tak legi terjatuh di lubang yang sama... wuihh.. Salah satu prinsip yang saya anut adalah "Hanya ada dua pilihan.. Terus Maju atau Pantang Mundur!". Hahaha... 
  6. Jujur dan tepat waktu. Jujur itu sangaaaattt... penting dan tidak mudah. Mungkin bisa jadi kita tidak berbohong pada orang lain, namun apakah yang kita katakan sudah sesuai dengan nurani? dalam arti, sudah jujurkah pada diri sendiri. Dalam dunia kerja, khususnya wiraswasta seperti saia ini, kejujuran dan tepat waktu sangat diutamakan untuk memperoleh kepercayaan dari customer dan dari diri saya sendiri :) Apabila suatu pekerjaan sudah disepakati untuk selesai pada waktu tertentu, harus betul-betul selesai pada saat yang ditentukan, bukan hampir selesai atau malah belum selesai. Ini prinsip yang saya tauladani dari suami saya. Jadi beliau kalau ada pekerjaan dan ditanya batas waktu, selalu diprediksikan beberapa waktu setelah waktu yang beliau sanggupi untuk menyelesaikannya. Misalnya, waktu untuk menyelesaikan sebenarnya bisa 2 hari, tapi beliau mengatakan ke customer 3 hari. Sebagai antisipasi terhadap berbagai kemungkinan yang terjadi. So, kepercayaan mereka tetap terjaga...
  7. Berpikir positif terhadap kehidupan. Kehidupan ini akan berjalan indah manakala kita menatapnya dengan indah, begitu pula sebaliknya. Bersyukur atas segala sesuatu yang diterima dan menjadikan ujian yang didapat adalah untuk meningkatkan derajat kita di hadapan Sang Maha Hidup dan di mata manusia. Seperti seruling yang berbunyi indah dan merdu. Dia dibuat dari batang bambu yang telah diamplas demikian rupa dan dilubangi dengan rasa sakit yang teramat sangat. Namun pada akhirnya ia dapat memberikan manfaat bagi manusia dan semakin tinggi nilainya. Demikian pula barang di sekitar kita (kursi, meja kayu dll) yang demi memberikan manfaat pada kita, mereka rela menjalani proses panjang mulai dari ditebang, dipisahkan dari lingkungannya, diproses dengan cara dan waktu tertentu sehingga dapat memberikan maknanya bagi kehidupan. Begitu juga manusia.... Semakin banyak menikmati asam garam kehidupan, orang yang 'mengerti' akan semakin bijak dan menghadapi hidup dengan indah. Tak ada lagi senang-sedih, tawa-tangis yang berlebihan. Semua pas sesuai porsinya. Tak ada kehilangan, karena tak ada yang hilang...
Huff.. semakin menulis rasanya ingin terus menulis dan menuangkan yang ada di hati. Tapi sementara ini cukuplah... Semoga lain waktu bisa ketemu di tulisan yang lain. Selamat berbahagia. Rahayu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar